Seperti yang saya kutip dari antara.com
Dalam iklan yang ditayangkan di televisi swasta nasional, Agus Ringgo sebagai model iklan tersebut ditayangkan sedang mencari-cari sesuatu di atas meja yang terdapat beberapa kotak.
Kertas-kertas dalam kotak itu berwarna-warni khas operator pesaing. Dari setiap kotak yang dihampirinya muncul kertas dari dalam, bertuliskan layanan operator yang memberikan kemudahan dengan “kalau” (syarat).
Di akhir iklan, Agus Ringgo menemukan operator telepon yang memberikan pulsa murah tanpa syarat.
Ernowo menyanggah iklan tersebut menunjukkan kekalahan Indosat dalam persaingan dengan sesama penyedia jaringan telekomunikasi.
Ia mengatakan iklan tersebut salah sasaran, karena Indosat dan beberapa perusahaan yang secara implisit digambarkan dalam tayangan iklan itu bukan tandingan Esia.
“Kami kan selular, sedangkan dia CDMA,” ujarnya.Dalam iklan Esia terlihat membandingkan satuan tarif telepon selular tetap (fix) maupun bergerak (mobile).
Ternyata operator GSM menganggap CDMA bukan sebuah kompetitor dalam bisnis telekomunikasi, kok bisa yah ? Bukannya dulu sebelum CDMA keluar semua orang belinya GSM, sekarang masyarakat bisa memilih “mau yang murah, atau mau yang mahal” yah kan ? Semenjak CDMA keluar saya yakin pangsa pasar GSM mengalami penurunan walaupun tidak drastis, sekarang CDMA masih menjadi alternatif kedua selain GSM sebagai penyedia telekomunik yang murah, but jangan dianggap remeh dengan keluarnya licensi dari DepKomInfo untuk Mobile Wireless, maka nanti kekurangan dari CDMA untuk coverage wilayah nasional akan terselesaikan. Dan dapat diyakini pula jika penggunaan GSM saat ini lebih sedikit dibandingakan dahulu, sekarang untuk telpon lokal atau sesama CDMA yah menggunakan operator CDMA saja, lawong lebih murah. Kesimpulannya pendapatan dari GSM berkurang sekarang dibandingkan dahulu sebelum CDMA keluar.
So, wahai para operator telekomunikasi, jangan sampai anda menganggap CDMA bukan merupakan kompeitor anda. Jangan sampai anda telat mengetahuinya, jangan sampai pelanggan anda lari dari GSM pindah ke CDMA.













Kill The Competitor or Control The Competitor
Januari 2, 2009Tapi tentunya siapa sih yang ingin mempunyai saingan dalam melakukan sebuah bisnis atau usaha ? Jika kita perlu pasti kita akan berusaha untuk mematikan produk competitor kita, baik itu dari sisi persaingan harga (price), persaingan tempat usaha (location), persaingan dalam beriklan (advertising), ataupun persaingan dari sisi kualitas barang atau layanan (product and service). Hal ini dapat kita lihat dari persaingan antara beberapa perusahaan operator telekomunikasi saat ini. Dan hasilnya beberapa operator sudah mulai sekarat, dan sebentar lagi akan mati. Kill the competitor kata mereka.
Tapi ada beberapa perusahaan yang tidak membunuh competitor yang ada, mereka malah mengontrol competitor meraka. Salah satu caranya adalah dengan membeli perusahaan yang mereka rasa jadi competitor mereka, atau dengan cara melakukan sharing project dibeberapa client, atau juga dengan merger menjadi sebuah perusahaan yang kuat.
Saat ini perusahaan yang kuat secara modal, baik itu modal secara materi, relationship, knowledge, etc yang akan menang dalam persaingan. Kompetitor pasti akan mati, dibeli secara kepemilikan atau mati sekarat, karena tidak mampu bersaing.
Siapa yang kuat untuk berkompetisi dengan TELKOM, GARUDA, PERTAMINA, BCA atau BLUEBIRD…? Mereka sekarang pasti siap mengincar perusahaan kompetitor yang sudah sekarat….
Cara baru dalam persaingan bisnis…. CONTROL THE COMPETITOR AND AFTER THAT CONTROL THEM OR MAYBE KILL THEM….
Ditulis dalam Business Review, Enterpreneurship, Knowledge, Marketing Review, Marketing Tools, Mind Share, News Comment, Sales, Telecommunication Business | 4 Komentar »